Bacaan Setahun : 2 Samuel 8-9, 1 Tawarikh 18
Pembahasan : 2 Samuel 9 : 1 - 13
Ayat Rhema :
Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?"—2 Samuel 9 : 8
Saat Raja Daud memanggil Mefiboset, anak Yonatan, bukannya bahagia dan sukacita melainkan rendah diri berlebihan. Ia menyebut dirinya seperti “anjing mati” . Itu gambaran dari seseorang yang terluka secara batin, kehilangan harga diri, dan tidak lagi percaya bahwa dirinya layak diterima. Padahal, ia adalah keturunan raja. Karena masa lalu dan kondisinya yang lumpuh, ia hidup tersembunyi di daerah terpencil dan terisolasi.
Daud justru menunjukkan kasih dan mengembalikan kehormatannya. Ia mengangkat Mefiboset untuk duduk sehidangan dengan raja. Respons Mefiboset menunjukkan bahwa kadang orang percaya pun bersikap “childish” secara rohani: merasa tidak layak, takut ditolak, sulit menerima kasih karunia Tuhan, bahkan hidup dalam rasa malu.
Iman yang dewasa adalah ketika kita berani menerima kasih Allah, menghidupi identitas baru bukan manusia lama, dan percaya bahwa kita telah diangkat sebagai anak-anak Allah, Raja segala Raja.
Yang harus dilakukan
✅ Jangan terus hidup dalam luka dan bayang-bayang masa lalu.
✅ Terimalah dan sadari identitas baru sebagai anak Allah.
✅ Miliki iman yang dewasa bukan kekanak-kanakan.
Pokok Doa
"Tuhan, ampuni aku bila selama ini aku meragukan kasih anugerah-Mu melayakkanku. Aku mau bersyukur dan menghidupi kebenaran-Mu, karena Engkau telah mengangkat aku sebagai anak-Mu. Amin"
Selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati berlimpah-limpah dan limpah.
Salam bahagia,
Tim Penggembalaan
Gosyen Blessing Church